Hujan dan Sebuah Senyuman

Saya mencoba sedikit untuk mengeluarkan beberapa ocehan dalam benak saya.

Kita mungkin banyak melihat hal yang hadir dalam kehidupan ini dengan ukuran rasio visual ataupun pikiran yang sebetulnya sangat pragmatis. Namun pernahkah kita melihat sebuah keindahan melalui hati?

Jauh ke dalam dimensi ruang visual yang kita miliki, kita sebagai manusia diciptakan sebagai makhluk yang dibekali dengan karunia untuk dapat mengagumi keindahan. Cinta akan keindahan sebagai wujud rasa kagum kita terhadap Allah SWT sebagai Sang Maha Pencipta. Rasa cinta akan sebuah keindahan itu tidaklah muncul seketika.

Mata merupakan alat yang diciptakan oleh Allah SWT yang diberikan kepada manusia agar mampu mengamati dan melihat kebesaran-Nya. Mata menangkap hal-hal dappat dilihat disekitar kita. Otak merespon dengan menerjemahkan hal-hal yang diamati mata untuk kemudian diidentifikasi sebagai sesuatu dari sesuatu yang baik hingga yang tidak baik.

Lalu bagaimana dengan kesempurnaan?

Definisi kesempurnaan bagi setiap orang berbeda-beda maknanya. Memaknai kesempurnaan harus melibatkan satu bagian penting yang Allah berikan kepada kita, hati. Lewat hati, manusia mencerna dan memaknai lebih jauh tentang makna kesempurnaan. Keindahan yang muncul lebih dalam dari sekedar indah secara kasat mata. Melalui hati kita pada akhirnya dapat merasakan arti dari sebuah keindahan.

Menurut hemat saya, keindahan itu merupakan sebuah wujud dari rasa syukur. Ketika kita bisa bersyukur, disitulah arti dan makna keindahan sesungguhnya dapat dirasakan. Ketika mata tak kuasa melihat kenyataan, dengan syukur kita akan mampu tersenyum memandang keadaan.

Keindahan dapat kita berikan pujian sebagai kesempurnaan. Namun, bukankah nilai tolak ukur keindahan karena ada bagian yang tak indah?

Maha Sempurna dan Maha Adil Allah, Ia menciptakan kita dan seluruh hal di alam semesta ini tidak sama mutlak. Disitulah arti dari relatifitas. Saat sesuatu hal yang bersifat minor berdiri sendiri diantara banyak hal yang dominan. Maka secara naluri, manusia akan memperhatikan satu hal yang berbeda itu. Selalu akan ada hal yang lebih dari yang kita anggap cukup.

Hati ini diberikan sebuah ruang untuk mencerna tanda kebesaran-Nya. Saat syukur itu ada maka keindahan akan sempurna, bahkan dari hal yang tidak indah sekalipun kesempurnaan itu akan ada. Tidak ada yang tidak sempurna dari pemberian Allah, semua sudah dihitung dan dikalkulasi sesuatu dengan cermat oleh Sang Maha Pencipta, tinggal kita berpikir ulang apakah kita sudah benar menempatkan definisi visual kita secara mendalam atau baru sebatas mata saja. Semua ada keterbatasannya, namun Allah telah menyeimbangkannya dengan sesuatu hal yang lain.

“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Belajar untuk bersyukur, belajar untuk melihat dengan hati šŸ™‚
“Perfection in Imperfection”
(Kesempurnaan dalam Ketidaksempurnaan)

Fajar Harnomo – Saat Hujan Malam, 13.01.15

Advertisements

About fajarikhwan

I was born in Bandung. Graduated from Department of Architecture, National Institute of Technology (Itenas), Bandung in 2010. Began the career at architecture office in Bandung. Now, I'm working at GFAB architects in Denpasar, Bali, Indonesia. I also had an interest in photography and graphic designs much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: