Antara Peka dan Rasa

Indonesia itu luas dan besar. Indonesia itu Indah.

Sebagai seorang arsitek yang sedang belajar, Aku menyadari betul betapa pentingnya memahami makna dari kehidupan kita ini. Tuhan mengingatkan dan memberitahu lewat banyak hal. Nyaris, Aku tidak memperhatikan apa yang selama ini ada di sekitarku. Sebuah jalan keluar dari pemikiran yang ortodoks-kah atau sekedar risau kecil dibalik angan sebuah intepretasi.

Berbalik melihat keluar dari jendela kecil di kamarku. Setiap detik mungkin Aku hanya berkutat di dalam diriku saja, tidak mau melihat keluar. Akibatnya, banyak hal-hal kecil yang seharusnya bisa menjadi rangkaian jawaban dari seribu pertanyaan dalam benakku hilang dalam satuan waktu, bahkan mungkin setiap harinya.

Oh iya, Aku ada sedikit cerita,

Ini mengenai pemikiran yang entah muncul dari mana, sampai tempo hari ada hal menggelitik pikiranku, tentang sebuah usulan sebuah bahasa desain negara lain yang ingin diterapkan di desain yang telah ada. Sama seperti mencampur Bahasa Belanda dengan Bahasa Prancis dengan aksen Indonesia, saling melemahkan atau bahkan hilang. Jadi, ini bukan soal menyoal simbol yang selama ini keta kenal. Berhenti untuk menyimpulkan atau bahkan memaksakan sebuah intepretasi pribadi terhadap publik. Ini bukan gedung birokrasi yang bisa diutak-atik sesuai dengan kemauan yang punya jabatan.

Jauh dari sekedar itu, polemik yang akan muncul mungkin tentang keikhlasan.

Berkaca dari sebuah pemahaman, bahwa pemahaman rasa itu jauh melebihi pemahaman visual. Jadi rasanya terlalu egois apabila kita mengatakan atau bahkan menyarankan sesuatu hal yang (baru) kita pahami dalam ranah visual saja. Sebagai analogi (misal) sebuah Rumah Tongkonan diletakkan di Kampung Naga, dipaksakan dengan bentuk sedemikian rupa sama. Tidak pada konteksnya bahkan akan saling mengeliminasi. Berbicara mengenai itu jauh dari sebuah desain yang Aku lakukan ini sebetulnya ada nilai yang jauh untuk ditempatkan.

Spiritual. Itulah bahasa yang Aku capai dengan melakukan pendekatan-pendekatan tertentu. Aku menyederhanakan ornamen untuk mencapai kesederhanaan. Aku menyederhanakan pengalaman visual untuk menekankan pada pengalaman pencapaian. Ada yang muncul namun ada yang harus mengalah. Itulah keseimbangan (menurutku). Bangunan itu lebih dari sekedar simbol spiritual, jauh di sana ada sebuah pencapaian rasa yang dimunculkan, bukan pemanjaan visual saja. Mungkin kontemplasi tidak berlaku bagi kalangan yang memang berperspektif terhadap visual.

Dia pikir itu benar, meletakkan identitas lain ke dalam identitas yang ada. Pendekatannya pun berbeda, namun tetap yakin atas apa yang dia pikir itu benar. Ah seandainya dia tahu bahwa Istana Kremlin menggunakannya untuk sesuatu yang khusus pasti dia akan menarik ucapannya.

Ah sudahlah, harusnya tidak usah banyak menyalahkan, harusnya kita yang berpikir solusi. Bukankah kita harus menjadi solusi dari setiap masalah?

🙂

***

Hidup itu bagaimana kita melihatnya. Tapi apakah kita sudah hidup seutuhnya, tanyaku? Lagi-lagi aku masuk ke dalam sebuah jawaban yang menantangku untuk menggapainya. Sampai suatu ketika Aku berbicara lantang dalam pikiranku.

“Tapi sebagai seorang arsitek, Aku malu sebetulnya. Sampai detik ini Aku masih melakukan ego-ego yang hanya mengedepankan keinginan semata tanpa melihat kebutuhan dan keadaan. Bahkan dari sekian juta masalah di Indonesia ini, belum ada yang mampu aku petakan satu pun rasanya”.

Melankolis…

Larut dalam pertanyaan panjang sebuah jalan pikiran. Ini bukan sekedar pencitraan yang lahir dari sketsa liar tangan, jauh di depan sana ini berbicara mengenai manfaat. Apa manfaatnya kita berteriak lantang lewat sebuah desain yang kita buat jika tidak sama sekali mampu berbicara halus untuk manusia yang lain? Menurut pemahamanku pada saat ini, manfaat akan jauh lebih dirasakan ketimbang pencitraan, mungkin suatu saat nanti ini sudah tidak berlaku, atau sebaliknya.

Semakin menggalau dengan racauan pikiran yang liar entah kemana. Bahkan tulisan-tulisan ini pun menjadi pertanyaan balik ke dalam diriku. Aku iri melihat orang-orang yang tidak aku hiraukan itu mampu melahirkan sebuah manfaat yang jauh dari ekspetasiku. Lewat hal-hal kecil mereka berbicara, tidak lantang, namun penuh penjiwaan dan kedamaian.

Bijakkah selama ini Aku mendesain? Apakah manfaat yang sudah aku berikan sejauh ini?

Itu…disitulah rasanya sebuah manfaat. Sekali lagi, ini bagian dari kritikku terhadap diriku sendiri. Alangkah indahnya ketika kita mampu membaca setiap masalah menjadi sebuah solusi. Alangkah indahnya ketika apa yang kita lakukan menjadi manfaat untuk manusia lainnya. Rasanya hidup semakin menjadi sempurna.

Suatu saat mungkin Aku akan mampu mengerti tentang ritme sebuah cerita sejarah yang nenek moyangku dulu lakukan. Bahkan mungkin budaya yang beragam di Indonesia ini akan menjadi sahabatku yang akan selalu menceritakan dan memberi benang merah dalam pencapaian manfaat tersebut. Bagian dari kegalauanku yang akan menjadi sebuah solusi dari pertanyaan-pertanyaan di pikiranku. “Belum waktunya, teruslah melaju nanti akan ketemu”, begitu aku mendengar jelas dalam diriku.

Ah… Tuhan selalu  mendengarkan Aku bercerita. Aku yakin Ia tersenyum diatas sana. Aku pun serasa mendapatkan sebuah pencerahan. Mungkin ini membantu mendistraksi pikiranku dan menjadi motivasi, pada akhirnya. *senyum optimisme*

01:03, semakin malam (baca, dini hari).

 

 

Advertisements

About fajarikhwan

I was born in Bandung. Graduated from Department of Architecture, National Institute of Technology (Itenas), Bandung in 2010. Began the career at architecture office in Bandung. Now, I'm working at GFAB architects in Denpasar, Bali, Indonesia. I also had an interest in photography and graphic designs much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: