Memaknai Hidup #2

Seberapa jauh perbedaan mengenai pendapat? semua hal mengenai cara berpikir kita ditentukan oleh darimana latar belakang kita berasal, jalan hidup masing-masing pelakunya menentukan bagaimana mereka mengambil simpul-simpul masalah untuk kemudian dibaca. Banyak debat pendapat, debat kusir yang rasanya sulit untuk dicari titik temunya. Intinya adalah, andaikata setiap dari kepala mau berdistraksi untuk mencoba melihat dari persepktif yang lain, tidak naif, tidak menonjolkan diri, untuk saat seperti ini dibutuhkan rasa empati yang tinggi.

Berlalu dalam sebuah perhelatan pikiran, bukan menjadi mustahil untuk terjadi kerenggangan persepsi. Dalam ilmu  seperti ini tidak dibutuhkan mana yang benar atau salah, indikasinya bukan melalui rumus empiris, tapi menyentuh ranah sosial, humanisme, alamiah, dan manusiawi.

Proses pergerakkan dalam sikap menetukan bagaimana dunia liuar mengapresiasi kita kelak. Bawalah pemikiran bahwa orang lain “awam”, maksudnya bukan menganggap orang lain rendah, tetapi dengan begini akhirnya kita mau untuk berkomunikasi dengan bahasa yang “lebih mudah dicerna”. terkadang kita terlalu naif sampai-sampai orang lain harus berada dalam zona berpikir kita dan mem-“umum”-kan pandangan kita bahwa itu adalah hal yang wajar dan mudah diterima.

Sekali lagi itu tidak, bukan hanya satu kepala, ada ribuan kepala yang artinya ada ribuan juga pikiran dan pendapat orang. bukan untuk hidup dalam kepersepsian khalayak, tetapi cukup untuk berdiri dan melihat dari beberapa kepala saja, supaya akhirnya kita bisa menilai perbuatan kita sendiri.

Sehingga bisa memilah mana yang menjadi baik dan mana yang menjadi simpul kesalahan, akhirnya akan semakin bijak untuk menentukan keputusan, dan semakin mudah memilah hal-hal yang menjadi maksud tujuan. Mana yang menjadi hal temporary, mana yang menjadi visi jauh ke depan, dan mana yang menjadi prioritas dalam hidup kita.

Bukan pemaksaan pendapat tentang bagaimana diri kita dan siapa kita untuk orang lain terima, tapi bagaimana kita mau sedikit setidaknya untuk memandang ke dalam diri kita sendiri, menilai seberapakah sikap dan keputusan kita untuk bisa dilihat dengan maksud yang seperti kita maksud oleh orang lain.

 

“If you want others to be happy, practice compassion. If you want to be happy, practice compassion.”

― Dalai Lama XIVThe Art of Happiness: A Handbook for Living

Advertisements

About fajarikhwan

I was born in Bandung. Graduated from Department of Architecture, National Institute of Technology (Itenas), Bandung in 2010. Began the career at architecture office in Bandung. Now, I'm working at GFAB architects in Denpasar, Bali, Indonesia. I also had an interest in photography and graphic designs much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: