Memaknai Hidup #1

Tuhan telah menggulirkan kebaikan-Nya melalui rezeki yang telah digariskan kepada setiap hamba-Nya, tidak ada satu hal kecil apapun di dunia ini yang tercipta untuk sia-sia, bahkan dari hal yang terbilang “tak berguna” menurut kita

Kala itu, panas matahari kian terik. Setelah menghabiskan makan siang yang begitu nikmat ditemani segelas es teh manis, saya bergegas untuk menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat seperti biasanya. Semilir angin menemani perjalanan saya dari tempat makan siang hingga masjid (mungkin orang-orang sekitar lebih akrab menyebutnya dengan Musholla).

Oke, singkat cerita, sepulang dari masjid saya kembali ke kantor. Saat itu kurang lebih waktu di jam tangan hitam favorit saya menunjukan pukul 14.15. Lagi-lagi keringat mulai menetes di dahi saya, maklum Bali sedang labil cuacanya.

Sesampinya di depan kantor, saya memarkir motor di bawah pohon rindang dengan ditemani suara bising kendaraan, mungkin seperti suara truk. Saya sambil bergegas berjalan masuk sambil membuka helm. Saat saya memperhatikan sekitar dan ternyata suara bising yang saya dengar tadi adalah sebuah truk berukuran sedang terparkir diam di depan halaman kantor lengkap dengan selang-selang panjang berdiameter cukup besar. Truk ini adalah bagian dari pelayanan publik terkait soal kebersihan. Ya, benda besar ini berurusan dengan urusan pembuangan (wc’s things).

Namun, yang membuat saya menulis di sini bukanlah karena kehebatan atau keperkasaan truk ini layaknya film transformer (?), yang menarik perhatian adalah siapa orang yang rela bekerja untuk hal semacam ini.

Pertanyaan besar muncul di benak saya. Tak lama rasa penasaran saya terjawab. Seorang lelaki paruh baya keluar dari benda ‘ajaib’ ini. Ia berpenampilan sederhana, peci (kupluk) berwarna putih melekat diatas kepalanya. kulitnya coklat kegelapan diselimuti peluh keringat. Celana kain cokalt gelap, disertai polo shirt garis-garis lengkap melekat di badannya. Dengan hanya beralaskan sandal jepit berwarna hijau yang bertuliskan “burung walet” menemani langkahnya.

Sesekali ia menyeka keringat di keningnya, sambil mengangkat selang-selang berukuran besar yang siap menyedot seluruh beda yang ada di dalam ‘sana’. Dengan ditemani seorang asisten bercelana pendek, mereka keluar masuk ruangan dengan sigap.

Melihat penampakan wajah seorang bapak tua ini, pikiran saya jauh bertanya tentang bagaimana kehidupan dia dibalik ini semua. Sejenak jari jemari saya berhenti memainkan keyboard komputer. Saya termenung sesaat. Tiba-tiba saya melihat ke dalam diri saya. “Sungguh mulia sekali pekerjaan bapak ini”, celetuk saya dalam hati.

Mengapa tidak? Di dunia ini berapa banyak orang yang mau berurusan dengan hal yang mungkin dibenci oleh beberapa kalangan. Tapi tidak untuk bapak ini. Ia dengan sukarela melakukan pekerjaan ini dengan semangat dan profesional. Bukan dilihat dari jenis pekerjaannya, tapi lihatlah jauh ke dalam, tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Jauh ke dalam hal yang tidak disukai oleh manusia dan memang seakan tidak ada arti apa-apa di sana selain kekotoran. Namun, sekali lagi, Tuhan menunjukan kasih sayang-Nya. dalam hal yang (bisa) dikatakan “sisa”, “buangan”, “kotor” masih ada rezeki yang mengalir disana, rezeki yang diberikan kepada orang-orang yang mau bersyukur dan melihat hikmah kehidupan.

Peci putih yang melekat di kepala bapak tersebut semakin menggambarkan bahwa beliau adalah orang yang bijak dalam menjalani pekerjaannya dengan ikhlas. Saya kagum dengan bapak ini, Ia begitu menikmati pekerjaan ini tanpa terlihat raut keluhan di wajahnya. Saya yakin ia sosok lelaki yang bertanggung jawab terhadap keluarga, suami yang baik bagi istrinya, dan ayah yang hebat di mata anak-anaknya. Di punggunya terdapat tanggung jawab yang ia pegang.

Bagi saya pribadi, peristiwa ini menjadi hikmah sekaligus kritikan bagi diri pribadi, apakah sejauh ini kita hidup dan melangkah kita sudah banyak melakukan kebaikan? dan yang terpenting, sudahkah kita mensyukuri nikmat yang  Tuhan berikan kepada kita?

Siapa bilang kebahagiaan itu tergambarkan melalui uang yang berlimpah? buktinya bapak ini dengan senyum melakukan pekerjaan ini. Mungkin apabila dia berada dalam keadaan yang bergelimang belum tentu ia mampu tersenyum seperti itu karena pikiran-pikiran yang semakin kompleks yang berbanding lurus. Bukan uang yang ia cari, tapi menjemput rezeki Tuhan. Kalau dengan melakukan pekerjaan ini ternyata ia bisa semakin mendekatkan diri dengan Tuhan kenapa harus mengeluhkan uang, kan?

Memandang sebuah pekerjaan sebagai sebuah sarana untuk tetap selalu mengingat Tuhan, bagaimana “melihat” karunia Tuhan di balik sebuah pekerjaan, perjalanan hidup dan peristiwa penting lainnya. Hidup bukanlah sekedar rangkaian peristiwa yang kita nantikan satu persatu, namun rangkaian kejadian yang mengarahkan kita pada pilihan-pilihan bijak yang akan menuntun kita kelak kepada pencapaian kita.

Bercermin kepada diri sendiri, melihat jauh ke dalam diri kita. Ternyata kelebihan kita tidak akan berarti dan bermakna apa-apa tanpa kita mau bersyukur. So, tetaplah membumi tetaplah bermimpi. Semoga menginspirasi 🙂

Advertisements

About fajarikhwan

I was born in Bandung. Graduated from Department of Architecture, National Institute of Technology (Itenas), Bandung in 2010. Began the career at architecture office in Bandung. Now, I'm working at GFAB architects in Denpasar, Bali, Indonesia. I also had an interest in photography and graphic designs much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: