Arsitek, Penata Rambut dan Kepercayaan

“Ckriss…Ckrisss…saaat saatt…”, bunyi sebuah gunting terdengar membelah lamunan para wanita yang mengantri di dalam sebuah tempat penata rambut, Hairdresser istilah kekiniannya. “Mas Saya mau model anu….kayak Syahrini ya?”, pinta seorang wanita kepada penata rambut tersebut. Dengan anggukan kepalanya diiringi senyum kecil mengisyaratkan dia mengerti dan paham apa yang dimaksud ‘potongan ala Syahrini yang dimaksud”.

Yap, saat ini penata rambut bukanlah sekedar orang yang hanya membenahi atau menghias rambut dari panjang dan pendek semata, anyak sekali berbagai jenis tempat perawatan rambut baik bagi kaum adam maupun hawa. Tidak hanya itu, berbagai kelebihan pun ditawarkan kepada para pelanggannya dengan berbagai macam kemutakhiran teknik merawat rambut. Kepuasan pelanggan terhadap tampilan dirinya, itu yang yang diutamakan.

Lalu mengapa orang berani mempercayakan tampilan diri mereka terutama tentang masalah rambut kepada para ahli pemotong rambut kepercayaan mereka? Tidakkah lebih mudah dimengerti oleh diri sendiri tentang tren/mode/gaya apa yang hendak diterapkan pada diri mereka masing?

Melihat lebih dalam tentang sebuah profesi. Profesi (1) adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris “Profess”, yang dalam bahasa Yunani adalah “Επαγγελια”, yang bermakna: “Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen”. Artinya, dalam setiap profesi yang dikerjakan diperlukan kemampuan dan keahlian khussu agar mampu menyelesaikan tugas khusus tersebut, dalam hal ini kaitannya dengan profesi tukang potong rambut/hairdresser.

Lalu bagaimana kaitannya dengan arsitek? apakah arsitek seorang penata rambut juga?

Profesi dan profesional, berkaitan langusng dengan seorang penata rambut maupun arsitek. Bagaimana sebuah kepercayaan masyarakat lahir pada seorang penata rambut juga mampu hadir pada seorang arsitek sebagai ahli dalam mendesain “ruang” tinggal. Keduanya berkaitan erat dengan ‘Estetika’, dimana peran visual sangat mendukung persepsi dan ekspetasi orang-orang dalam memberikan ‘credit’ terhadap seorang profesional kepercayaan mereka.

Bias, itu rasanya yang masih hinggap dalam negara kita. Seorang pelanggan yang hendak ‘mengutak-atik’ tampilan rambutnya tentu tidak akan memilih penata rambut yang sembarangan, haruslah seorang penata rambut yang mengerti dan paham tentang bagaimana cara memeberikan sentuhan khas untuk tiap klien yang datang sesuai keinginannya, keahlian dan soft skills lainnya dari seorang penata rambut dibutuhkan di sini. Perlu diketahui, untuk menjadi seorang penata rambut yang profesional harus melalui semacam tahap ‘pendidikan keprofesian’ khusus, dimana sertifikasi akan menjadi pegangan atas kredibilitas dan profesionalisme mereka.

Arsitek? Bukanlah seorang kecil yang hanya mengurusi masalah rambut/kepala yang tidak lebih besar dari dari 1/2 m3, namun keahlian dalam melihat hal yang ‘kasat mata’ dalam sebuah nilai estetika menjadi peran penting dalam ilmu arsitektur dalam menyajikan sebuah karya yang layak untuk digunakan oleh khalayak luas. Namun, mendapatkan kepercayaan dari seorang klien tidaklah mudah apalagi urusannya dengan bangunan, yang tidak mungkin mengeluarkan uang sebatas seratus ribu rupiah saja untuk mendapatkan kepuasan, seperti potong rambut.

Masih banyak paradigma masyarakat masih meragukan atau bahkan enggan untuk menggunakan jasa arsitek dalam menyediakan sebuah rumah tinggal ataupun bangunan lainnya yang layak secara fungsi maupun efek-fek lainnya. Padahal, jauh disana seorang arsitek juga diharuskan menempuh beberapa tahap-tahap tertentu untuk mendapatkan sertifikasi tentang validasi mereka sebagai seorang perancang bangunan.

Menentukan kepercayaan terhadap seorang perancang bangunan ibaratnya seperti menentukan siapa yang berhak Anda percayai untuk memotong rambut anda, tentu hasilnya tidak ingin berantakkan bukan?atau pun sekedar bagian dari eksperimen/percobaan awal mereka terhadap Anda.

Arsitek tidak hanya menghitung luasan bangunanm menghitung berapa biaya jasa konstruksi dan sebagainya, akan tetapi arsitek merupakan seorang profesional yang memiliki tanggung jawab untuk membuat bangunan yang layak huni baik secara visual maupun yang terpenting secara psikologis. Bagaimana sebuah cahaya yang masuk melalui lubang – lubang ventilasi buatan bisa diterjemahkan menjadi sebuah ‘keindahan alam’ yang masuk ke dalam ruangan, bagaimana ruangan terasa lebih menenangkan, elemen-elemen desain lainnya yang memberikan efek ‘kepuasan’ terhadap penggunanya.

Sudah tentu menjadi sebuah ‘PR’ untuk kita sebagai arsitek yang mampu memberikan kontribusi lebih terhadap masyarakat bukan hanya mengedepankan egoisme kita sebagai ‘perancang’ ataupun orang yang lebih mengerti tentang nilai estetika semata, tapi mampu mengedukasi secara tidak langsung tentang betapa pentingnya ‘nilai-nilai desain’ yang memberikan nilai lebih kelak bagi mereka, para pengguna. Seperti penata rambut, memberikan hasil yang memuaskan bagi para pelanggan, sehingga masyarakat mampu mempercayai penata rambut mereka masing-masing tanpa harus berpikir dua kali tentang harga yang harus dibayarkan untuk sebuah kepuasan. Arsitek, kenapa tidak bisa?

(1)  http://id.wikipedia.org/wiki/Profesi

Advertisements

About fajarikhwan

I was born in Bandung. Graduated from Department of Architecture, National Institute of Technology (Itenas), Bandung in 2010. Began the career at architecture office in Bandung. Now, I'm working at GFAB architects in Denpasar, Bali, Indonesia. I also had an interest in photography and graphic designs much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: